Pilih Life Finger Print Solusi Utama Atau Bantal ???

Maraknya kasus pembobolan ATM di sejumlah daerah dengan bank berbeda membuat kita semua terperanjat, ternyata tempat yang selama ini dinilai sangat-sangat aman dari segala hal ternyata tak sesuai dengan harapan. Kasus raipnya dana 10 miliar dari ATM di Bali, beberapa waktu lalu menjadi peristiwa yang menyisakan trauma mendalam bagi jutaan nasabah di seluruh negeri ini.

Kepercayaan yang tertanam sejak dulu hingga sekarang bahkan diturunkan ke anak cucu, lambat tapi pasti mulai luntur. Rasa was-was takut kehilangan dananya berbanding terbalik dengan perasaan sebelum terjadinya pembobolan, “Pengen Aman, Simpang Uang Anda Di Bank”, kini menjadi slogan yang tak dipercaya lagi.

Lalu kemanakah semua nasabah yang selama ini begitu sangat mempercayai kredibiltas bank, sebagai tempat paling aman menyimpan dananya, mengadu? Kepada siapakah nasabah berkeluh kesah dengan perasaanya yang membuat mereka tidak bias menikmati tidur dengan nyenyak? Otoritas yang manakah yang bisa mengembalikan kepercayaan sejati para nasabah terhadap bank?

Nasabah perlu jawaban yang pasti serta tindakan yang nyata agar virus ketidakpastian ini bisa teraratasi. Sebanarnya tidak banyak yang dituntut dari mereka, cuma satu, “aman tidak dana saya jika saya menabung di bank”? Permintaan yang sangat sederhana, dimana hal itu memang sudah menjadi kewajiban bank untuk menjaga keamanan berinvestasi.

Pertayaannya sekarang, tindakan prepentif apakah yang sudah dilakukan bank pasca bobobolnya ATM – ATM bank di Bali? Sudah menjadi rahasia umum, kalau di Negara ini, tidak pernah siap dengan segala kejadian, pepatah Sedia Payung Sebelum Hujan tidak serta merta diartikan dengan baik, hasilnya seperti yang bisa diduga, kecolongan lagi..kecolongan lagi.

Pasalnya peristiwa bobolnya ATM atau nasabah kehilangan dana padahal tidak pernah melakukan transaksi bukan yang pertama, tapi sudah berulangkali cuma tidak sempat terekspose luas ke khalayak ramai. Tindakan prepentif dengan memperketat keamanan ATM, bukannya itu adalah bagian service yang memang wajib dilakukan tanpa harus menunggu kejadian.

Rasanya memperketat keamanan ATM atau silih berganti menganti PIN ATM bukan solusi tepat saat ini, memang untuk tindakan pertama pada kejadian masih bisa dilakukan, tapi untuk kesinambungan keamanan investasi apa yang mesti dilakukan? Ide penggunaan  sistem life finger print, saat pengambilan ATM atau transaksi lainnya, bisa jadi ide mengemuka.
Karena system yang selama ini telah dipakai untuk absensi karyawan memang dinilai sangat tepat. Jika bukan orang bersangkutan, maka trasanksi tidak bisa dilakukan. Ide ini datang dari Mabes Polri, otoritas yang dibaut pusing oleh peristiwa ini.

Kepala Pusat Indonesia Automatic Fingerprint Indentification System (INAFIS), Brigjend Bekti Suhartono seperti dikutip inilah.com menuturkan sistem pengamanan yang sederhana tapi terjamin tingkat keamanannya. Hanya diperlukan penambahan satu alat baru, yang berupa alat pemindai sidik jari tanpa membongkar mesin ATM, atau mengunakan mesin ATM khusus.

Jika seorang nasabah bertransaksi melalui ATM, maka dia harus meletakan ibu jarinya di alat scan yang telah tersedia. Sidik jari tersebut selanjutnya otomatis terekam dan diidentifikasikan dengan data image/template/minutia sidik jari si pemilik yang tersimpan di dalam kartu ATM (match on card).

Apabila kedua data sidik jari ternyata tidak cocok, maka permintaan penggunaan kartu ATM otomatis akan ditolak dan kartu akan secara otomatis keluar. Dengan demikian hal ini akan mencegah kemungkinan terjadinya penyalahgunaan kartu ATM.

Mampukah ide finger print ini bisa diwujudkan? Masih perlu kerja keras karena berbagai kendala khususnya dengan harga alat ini yang termasuk mahal. Tapi mahalnya investasi keamanan bagi sebuah bank toh bukan kendala.

Bukankah semua bank yang ada menawarkan service terbaik, selain fasilitas bunganya tentu keamanan nasabah. Prinsip klien adalah raja harus dikedapkan terbanding dengan berinvestasi untuk menghadirkan alat tersubut walaupun harga mahal. Tidak ada kata tidak, kalau ingin meraih simpati masyarakat yang mulai tidak percaya dengan system keamanan bank.

Mudah-mudahan pihak bank serta otoritas yang berkompeten bisa merespon cepat ide baik ini. Kalau tidak tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank semakin melorot. Kita takutnya, masyarakat akan kembali lagi dengan cara tradisional diamana uang mereka simpan di bawah bantal atau kasur. Tentu hal ini kita tidak inginkan, apa kata dunia nantinya?????

1 Response so far »

  1. 1

    […] selengkapnya VN:F [1.6.8_931]please wait…Rating: 0.0/10 (0 votes cast)VN:F [1.6.8_931]Rating: 0 (from 0 votes) Posted in Umum | No Comments » […]


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: